Jumat, 04 Desember 2015

Dongeng Hari Jumat

Masih terjaga aku. Memintal cerita-cerita hari ini.
Senang juga menghabiskan hampir delapan jam dengan dia.
Aku tertawa sendiri membayangkan pertaruhan tadi.
Aku yang menang dan dibelikan buku yang kuinginkan.
Oh, dan di toko buku tadi, aku mencatat alamat penerbit.
Kukatakan padanya ingin kukirim naskahku nanti.
Dia terkejut melihat keseriusanku, tapi sedetik kemudian, dia minta aku mengirimkan kepadanya dulu-kalau sudah rampung.
Aku mencibirnya, tahu betul aku, dia tidak suka membaca roman-roman remaja.
Tapi, sungguh, kuhargai dukungannya.
Dan malam ini aku menulis lagi.
Dengan hasrat yang lebih dalam, dan semangat yang dia pinjamkan.

Kamis, 03 Desember 2015

Cinta Punya Cerita

Untuk apa ada cinta jika kita harus terluka?
Pertanyaan ini sempat menggelitik benakku. Membuatku seolah mengkaji lagi, benarkah cinta yang membuat kita terluka?
Well, let's this opinion be just an opinion.
Setiap orang tentunya punya persepsi berbeda tentang cinta.
Coba ceritakan, apa yang pertama terlintas bila mendengar kata cinta? Biar kutebak, tentu kisah pangeran dan putri kerajaan yang berakhir bahagia, bukan?
Ya, selama ini kita seperti disuapi oleh cerita-cerita indah yang penuh omong kosong.
Life isn't a fairytale. Dan kita meyakinkan diri untuk percaya bahwa semuanya seindah yang ada dalam dongeng-dongeng pengantar tidur.
Jadi, mari kita luruskan.
Setiap cinta punya ceritanya sendiri. Dan setiap cinta memungkinkan kita untuk terluka.
Apa cinta yang salah? Tidak ada yang salah dalam cinta.

Loving you is like being ten years old again, scaling a tree with my eyes bright and skyward, wanting only to get higher and higher, without a thought of how I would get back down. - Lang Leav

Kutipan di atas mengingatkan lagi. Saat kita mencintai seseorang, kita selalu berusaha memberikan lebih dan lebih. Sedikit pun kita tak pernah sadar, kita juga harus bersiap untuk jatuh, kecewa, dan terluka. Terkadang dalam mencintai, kita terlalu egois. Berpegang teguh pada ekspektasi-ekspektasi yang ada di kepala tanpa mempedulikan sisi-sisi yang lainnya.
Percayalah, kita terluka bukan karena cinta, tetapi karena harapan-harapan yang mungkin tak terealisasikan.
Namun, jangan takut terluka. Ingatkah ketika kita pertama kali belajar berjalan? Berapa kali kita jatuh sampai akhirnya mampu berjalan?
Sama saja dengan cinta. Beberapa kali kita akan terluka, sampai kita dapat benar-benar memahami cinta dan mencintai dengan cara yang benar.

This is just some kind of trouble-sleeping woman's thought. Don't take it too hard.

Kubilang Dunia Tidak Waras

Dan kembali, malam ini aku tak mampu terlelap.
Terlalu sibuk berkutat pada pikir yang entah kapan akan menguap.
Beribu tanda tanya coba aku pecahkan. Namun kutemukan bayangku sendiri terperangkap dalam gelap. Ini semua jebakan. Tak ada jalan keluar.
Sukmaku berteriak minta tolong, tapi tak lebih seperti suara melolong.
Ah, dinding ini terlalu beku untuk kuajak ngomong.
Jadi, mari kita pikirkan tentang angan-angan kosong.
Dunia ini seperti sedang berbohong, menjual kenikmatan yang segenap umat manusia berlomba hanya untuk sekedar mencicipinya.
Kenapa kita dipaksa hidup pada suatu takaran kebahagiaan yang diciptakan oleh kemunafikan?
Lihat, orang-orang di sana berebut kuasa. Untuk apa? Hanya untuk sebongkah kehormatan yang penuh dengan kepalsuan.
Padahal, untuk sampai pada titik yang mereka agungkan, terlalu banyak yang dipertaruhkan.
Ah, aku heran. Dunia ini penuh ketidakwarasan.
Kalau semua dinilai dengan materi, apakah kita benar-benar bahagia?
Tidak! Semuanya itu semu. Sudah kubilang, kita semua tengah tertipu pada pesona yang dibangun oleh keangkuhan. Dan bodohnya, kita terlalu berbangga akan hal itu.

Rabu, 02 Desember 2015

Senja

Kau tahu kenapa senja berwarna merah?
Karena mentari begitu terluka.
Ia jatuh cinta pada rembulan.
Setiap hari ia rela mati agar rembulan dapat bersinar.
Dengan satu harapan, suatu saat kelak, rembulan mampu membalas sedikit cintanya.
Kau tahu apa bagian tersedih dari kisah ini?
Ketika sang mentari terus berharap, walau ia tahu..
Harapnya takkan pernah menemui bahagia.

Mulai Menulis Lagi

Di tengah tanda tanya besar yang timbul di hati-tentang kita, terselip sebuah keyakinan.
Akan ada hari di mana kita tak hanya saling melempar senyum.
Akan ada hari di mana kita mulai memahami.
Akan ada hari di mana kedua tangan kita saling bertautan....
Ah, kalau aku katakan, pasti mereka bilang ini hanya ilusi.
Aku pun hampir percaya bahwa semua hanyalah daya imajinasiku semata.
Namun, entah mengapa...... setiap ku lihat sorot matamu yang dalam, aku yakin......
Entah kapan dan bagaimana....
Mungkin kita akan benar-benar bersama

Selamanya...